Menu Tutup

Kelase Hadir di Meetup StartupLokal V.65 Bersama PesonaEdu dan Kakatu Bicarakan Perkembangan Edtech Startup

Edukasi merupakan salah satu bidang paling vital dalam kehidupan masyarakat. Namun seberapa jauh dunia teknologi dapat menembusnya? Dan sejauh mana edtech startup menandakan kemajuan yang signifikan?

Pada Kamis (19/5/2016) lalu, komunitas Startup Lokal kembali mengadakan pertemuan dan bincang-bincang Meetup Startup Lokal V. 65, di Gedung Multimedia, Telkom, Jakarta. Kali ini, tema yang diangkat adalah Unbeatable Edtech Startup.

Hadir sebagai pembicara ialah para praktisi yang telah membangun startup di bidang education technology (edtech) tanah air. Mereka adalah Hary S. Candra selaku Founder dan Direktur Marketing PesonaEdu, Winastwan Gora Swajati selaku Founder dan COO Kelase, dan Muhammad Nur Awaludin selaku Co-Founder dan CEO Kakatu.

PesonaEdu adalah startup edtech yang menawarkan software berisi bahan mata pelajaran matematika dan sains untuk tingkat sekolah (SD hingga SMA), sedangkan Kelase adalah platform edukasi online (e-learning), yang menyediakan jejaring sosial dan lingkungan belajar secara online, khususnya mobile, sementara Kakatu adalah aplikasi parental controluntuk menghindarkan anak dari kecanduan gadget hingga konten pornografi.

Setelah sesi presentasi dari masing-masing pembicara, ketiganya pun bergabung dalam diskusi panel yang dimoderatori oleh Natali Ardianto, yang juga merupakan salah satu inisiator dari komunitas Startup Lokal. Diskusi berlangsung seru membicarakan pengalaman ketiga pelaku edtech startupselama menjalankan usaha masing-masing.

Ternyata, sebagai bidang yang seharusnya sarat dengan keilmuan dan inovasi, edukasi di Indonesia justru merupakan bidang yang paling sulit ditembus oleh teknologi. “Ibaratnya sekolah itu dipagari. Lalu kami para penggerak edtech startup ini berada di luar pagar, lalu berteriak-teriak menjual poduk kami,” ujar Hary S. Candra.

Pasalnya, banyak pihak merasa kesulitan untuk menyesuaikan proses belajar di sekolah dengan fasilitas teknologi yang ada, terutama bagi para guru. Maka, meski cenderung solutif, pemakaian situs dan aplikasi edukasi yang ada pun menjadi belum maksimal.

“Institusi pendidikan adalah satu-satunya lembaga yang belum mengadopsi teknologi secara optimal,” lanjut Hary.

Sejalan dengan opini tersebut, Gora menyatakan bahwa kesulitan adaptasi ini bukan hanya dirasakan oleh para tenaga pendidik, namun juga murid dan orang tua. Belum lagi hambatan eksternal seperti faktor geografis, keterbatasan akses internet dan ketidakmerataan fasilitas pendidikan, yang mempengaruhi tingkat pemakaian aplikasi dan situs edtech.

“Sebagai pelaku edtech startup, kita wajib memiliki survival skill yang tinggi alias tahan banting. Sadar dengan risiko yang akan dihadapi, namun tetap giat mengembangkan produk yang dimiliki,” tandasnya.

Terasah berkat banyak rintangan

Muhammad Nur Awaludin alias Mumu pun bercerita bahwa selama perjalanannya mengembangkan Kakatu, banyak rintangan yang ditemui. “Orang-orang mungkin melihatnya kita mudah banget ya, bisa dapat prestasi ini-ituPadahal, ada kerja keras yang tidak mereka ketahui,” ujar Mumu.

Salah satu yang pernah dihadapinya ialah kendala tim, yakni bagaimana membentuk tim yang kuat dan solid agar bisa berkolaborasi dengan baik. “Saya tersadar bahwa yang terpenting itu bukan hanya bekerja, namun juga berkeluarga. Kita harus membentuk super team, bukan berjuang sendiri menjadi Superman,” ujar Mumu seraya tertawa,.

Gora pun menambahkan, bahwa tiap edtech startup pasti memiliki fase ‘titik nadir’ masing-masing. Maka, pengelolaan yang baik menjadi kunci utama. “Terutama masalah manajemen waktu dan juga keuangan agar perusahaan bisa bertahan dan berjalan dengan efektif,” jelasnya.

Meski begitu, ketiganya mengaku optimistis dengan industri edtech, terutama di Indonesia sendiri. Masih banyak ruang bagi berbagai pihak untuk bersinergi dan memanfaatkan teknologi agar dapat member dampak yang positif bagi pendidikan bangsa.

Lantas, apa hal yang dapat menjadi pembelajaran utama para penggerak edtech startup ini? Jawaban Hary S. Candra nampaknya dapat mewakili para pembicara yang ada.

“Empat tahun pertama kita tahu bahwa kita mungkin tak akan mencapai profit. Namun, we love what we are doing. Kuncinya adalah konsisten dan terus lakukan perubahan,” ujarnya. (EC/DI)

Sumber Asli : https://www.hitsss.com/startuplokal-v-65-pesonaedu-kelase-kakatu-bicarakan-perkembangan-edtech-startup/

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of