Penerapan Strategi PjBL (Project Based Learning) untuk Bidang Studi Teknik Informatika

Sebagai seorang yang pernah menjadi dosen Teknik Informatika, dalam hati kecil saya merasakan keprihatinan terhadap kualitas lulusan yang telah dihasilkan. Ternyata, banyak dari mereka ketika baru saja lulus, merasa bahwa masih nol dalam aplikasi di dunia nyata, merasa sulit untuk bekerja mandiri menemukan solusi-solusi memecahkan masalah yang dihadapi dalam dunia kerja. Sebagai pengelola institusi pendidikan tentu saja harus mulai berfikir, apakah selama ini cara penyampaian dan konten materi pembelajaran serta kurikulumnya telah mampu mengantar mereka menjadi lulusan yang diharapkan? Kalau belum, maka dimanakah letak kelemahannya dan apa solusi yang harus dilakukan untuk mengantar mereka sesuai dengan kualitas yang diharapkan.

Mahasiswa berdiskusi dalam kelompok kecil dalam pembelajaran berbasis proyek

Penataan ulang atau mengupdate kurikulum agar sesuai dengan kemajuan jaman dan kebutuhan dunia kerja merupakan kebutuhan mutlak. Peningkatan kapasitas tenaga pengajar dengan berbagai kemampuan tentang seni mengajar orang dewasa (andragogi) sangat dibutuhkan. Namun demikian untuk membuat sebuah perubahan pada sesuatu yang telah lama mengakar bukan perkara yang mudah. Banyak para staf pengajar yang kurang update dari sisi keilmuan, belum lagi fondasi pedagogis dan andragogi mereka juga kurang terasah, terkesan masih sangat dominan menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada guru serta kurang mengoptimalkan potensi yang dimiliki peserta didik.

Tulisan ini mungkin bukan kali pertama yang mencoba untuk mengangkat pendekatan PjBL (Project Based Learning) dalam bidang studi keteknikan namun saya hanya mencoba untuk mengangkat kembali ide/pemikiran ini dengan cara yang lebih simpel dan barangkali saja dapat membantu para pengelola institusi pendidikan serta para pendidik yang sudah mulai berfikir kearah kualitas pendidikan untuk terus berakselerasi meningkatkan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi mereka.

PBL dalam Perkuliahan, Apa Untungnya?

Penerapan Project Based Learning adalah pendekatan yang mengedepankan siswa untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang benar-benar ditemui di lapangan. Dalam pembelajaran ini siswa akan berperan menjadi seorang profesional yang mencoba memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Problem Based Learning adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata dan lalu dari masalah ini mahasiswa dirangsang untuk mempelajari masalah ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru.

Ada beberapa alasan mengapa kita layak menerapkan pendekatan PjBL ini dalam kurikulum kita dengan berbagai kelebihannya yaitu problem solving (melatih mahasiswa untuk mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi), self directed learning (memupuk dan melatih rasa tanggung jawab, inisiatif dan kebebasan untuk belajar mandiri dan menentukan mana dulu yang akan dipelajari), life long learning (konsep belajar sepanjang hayat, sebagai usaha memupuk kesadaran belajar yang berkelanjutan dan tiada henti), identifikasi dan evaluasi sumber belajar (dengan berbagai sumber belajar siswa dituntut untuk mampu mengidentifikasi dan mengevaluasi sumber belajar yang tersebar bebas dari berbagai media dan sumber), critical thinking (melatih siswa untuk berpikir kritis dengan kemampuan analisa, evaluasi dan sintesa), creative thinking (melatih kemampuan daya kreasi siswa dalam menciptakan hal-hal baru), real world connection (melatih siswa untuk mengkoneksikan/menghubungkan konsep yang diperoleh dalam perkuliahan untuk dapat diaplikasikan dalam penyelesaian permasalahan di dunia nyata), cooperative dan collaborative learning (melatih siswa dengan kemampuan bekerjasama dan berkolaborasi dengan sesama/orang lain), peer learning (melatih siswa untuk belajar bersama rekan sejawat, dimana siswa akan mencoba mengajarkan sesuatu yang diketahui kepada orang lain sehingga dengan mengajarkan tersebut kemampuan dan pengetahuan siswa akan semakin terasah), refleksi (siswa berlatih untuk mampu mengemukakan dan menceritakan kembali atas pengalaman belajar yang telah mereka peroleh). Lewat berbagai keterampilan tersebut, siswa tidak hanya belajar hal-hal yang sifatnya keilmuan saja namun dilatih pula dalam pengembangan Life Skills dalam dirinya.

Mini Pilot, Langkah Revolusi Berskala Kecil Tapi Nyata

Tidaklah mudah untuk membawa perubahan yang besar pada sistem yang mapan. Untuk itulah perlu serangkaian kegiatan pembuktian, tentu saja dengan perubahan yang tidak terlalu signifikan serta memanfaatkan sumber daya yang minim, namun hasilnya dapat dilihat secara nyata. Jika Anda seorang pengajar berjiwa muda yang memiliki semangat tinggi, ajak dua teman Anda yang kebetulan memiliki visi yang sama untuk menggagas pembelajaran berbasis proyek ini. Dalam kegiatan mini pilot (percobaan kecil) ini usahakan membuat satu buah proyek untuk satu semester dulu, hal ini bertujuan agar siswa merasa ringan dalam mengikuti ujicoba ini, ya! satu proyek untuk satu semester dulu!.

Saat sebelum perkuliahan dimulai, ajaklah teman-teman Anda untuk mulai membahas tema proyek yang akan diterapkan dalam satu semester. Pilih sebuah proyek yang riil menjadi kebutuhan di dunia nyata. Saya ambil contoh misalnya pada semester IV, dengan tema proyek “Membangun Sistem Informasi”. Keterampilan pengembangan sistem informasi ini sangat mereka butuhkan ketika berkecimpung dalam dunia keteknik informatikaan. Selanjutnya pilihlah Mata Kuliah yang saling berkorelasi dan dibutuhkan dalam melakukan pengembangan sistem informasi seperti Sistem Basis Data, Bahasa Pemrograman dan Interaksi Manusia Komputer sebagai aspek khusus perancangan antar muka (interface) dari aplikasi sistem informasi tersebut. Ajaklah teman Dosen A yang sedang mengampu mata kuliah Sistem Basis Data, rekan Dosen B sedang mengampu mata kuliah Bahasa Pemrograman dan Anda yang kebetulan mengampu mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer.

Contoh pemetaan mata kuliah untuk project based learning

Mendesain Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Metode GRASP

Berikutnya, mulailah untuk bersama-sama dengan dosen yang lain merancang detail proyek yang akan digunakan dalam aktivitas PjBL ini. Metode perancangan pembelajaran berbasis proyek yang paling mudah adalah dengan metode GRASP. Penulis pertama kali mendengar dan mempelajari metode ini dari rekan Senior Trainer Intel Teach yang berasal dari Pakistan bernama Bagzha sewaktu menghadir Intel Teach Asia Senior Trainer Summit 2009 di Vietnam. Metode ini sangat mudah untuk mendesain proyek. GRASP merupakan singkatan dari Goal (Tujuan), Role (peran siswa yang dihubungkan dengan dunia nyata/real world), Audience (peserta dalam aktivitas pembelajaran), Set of Activities (rangkaian kegiatan dalam aktivitas pembelajaran) dan Product (produk/hasil/artefak pembelajaran). Contoh perancangan GRASP untuk proyek diatas adalah sebagai berikut :

Contoh Ide Proyek Pengembangan Sistem Informasi

Goal/Tujuan : Untuk memberikan keterampilan kepada para siswa bagaimana mengembangkan sistem informasi dengan mengembangkan berbagai dokumen perancangan dan penggunaan berbagai piranti pengembangan aplikasi.

Role/Peran : Siswa akan berperan sebagai pengembang aplikasi yang bekerja dalam sebuah tim dengan berbagai spesialisasi seperti perancang antarmuka (interface designer), business analyst, programmer, project manager atau peran lain yang dapat ditambahkan sesuai dengan jumlah anggota kelompok.

Set of Activities/Kumpulan Kegiatan : Siswa mengumpulkan informasi kebutuhan sistem informasi yang akan didevelop dari para nara sumber (pemakai), siswa mempelajari berbagai literatur, siswa membuat rancangan basis data, diagram alir aplikasi/program, rancangan antarmuka (user interface) lalu mempresentasikannya kepada pengguna untuk mendapatkan persetujuan, melakukan pemrograman aplikasi menggunakan IDE (Integrated Development Environment), membuat dokumentasi dan dukungan teknis serta melakukan ujicoba kepada pengguna dan melakukan distribusi aplikasi.

Product/Hasil : Dokumen rancangan basis data, diagram alir program, rancangan antar muka (user interface design), aplikasi desktop/web dan dokumentasi untuk dukungan teknis (help documents)

Setelah perancangan proyek, proses berikutnya adalah membuat detail dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Action Plan atau ada yang menyebutnya Unit Plan dimana didalamnya mencantumkan Tujuan Pembelajaran, Standar Kompetensi, Detail Aktifitas, Alat & Bahan Ajar, Lembar Kerja, Metode Evaluasi, dll.

Nantinya skenario project ini akan dijalankan secara pararel dalam tiga mata kuliah yang ada sehingga perlu dibuat sinkronisasi antar konten yang akan disampaikan pada tiap tahapan/pertemuan dengan mahasiswa.

Peran Dosen, Asisten Perkuliahan dan Dosen dalam Aktifitas PBL

Dalam kegiatan PjBL ini, peran dosen dan asisten adalah sebagai fasilitator pembelajaran dan membangun komunitas pembelajaran. Peran dosen adalah: Pertama, mempersiapkan skenario yang akan dibahas pada tiap sesi dan mengatur silabus mata kuliah. Jumlah sesi disesuaikan dengan cakupan materi, output, dan outcome dari perkuliahan. Kedua, secara bertahap mempersiapkan materi perkuliahan dalam bentuk file elektronik dan memberikan beberapa sumber antara lain buku referensi dan link website. Ketiga, sebagai fasilitator, dosen mendorong para mahasiswa untuk mengekplorasi pengetahuan yang telah mereka miliki dan menentukan pengetahuan yang diperlukan selanjutnya.

Dosen umumnya diharapkan untuk menahan diri tidak memberikan informasi, sebaliknya mendorong dilakukannya diskusi dan pembelajaran antar para mahasiswa. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah: (1) melakukan klarifikasi (misal terhadap perspektif yang muncul dalam diskusi), (2) mendorong pemikiran yang divergen (misalnya, adakah kemungkinan solusi yang lain?), (3) meletakkan permasalahan sesuai konteks (misalnya, apakah isu yang dibahas mengingatkan dosen pada berbagai informasi lain yang telah teridentifikasi sebelumnya?), (4) membuat urutan prioritas (misalnya apakah berbagai informasi yang telah diidentifikasi dapat diurutkan sesuai relevansinya terhadap permasalahan?), dan (5) memoderasi diskusi (misalnya apakah ada kemajuan dalam diskusi, kalau tidak, identifikasi apa saja yang salah dan kembalikan diskusi pada tujuan yang semula). Keempat, sebagai evaluator. Walaupun peran dosen tidak lagi dominan dalam pelaksanaan perkuliahan ber-PjBL, namun tetap dosen bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan pelaksanaan dan pencapaian tujuan perkuliahan. Untuk itu secara berkelanjutan dosen perlu mengevaluasi pelaksanaan perkuliahan dan melakukan perbaikan segera bilamana diperlukan baik dari sisi content maupun proses.

Dosen sebagai fasilitator juga harus menyediakan waktu untuk mendampingi mahasiswa dalam menyelesaikan penugasan yang diberikan, termasuk menjadi narasumber yang siap kapanpun dan menyediakan berbagai media komunikasi seperti email, web, blog, forum diskusi, dan chatting untuk memberi dukungan teknis kepada para mahasiswanya dalam usaha menyelesaikan studinya.

Sedangkan peran mahasiswa adalah secara umum dalam perkuliahan PjBL adalah mempersiapkan diri untuk belajar secara mandiri dan bekerja secara kelompok, memiliki komitmen penuh untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada, serta berperan aktif dalam diskusi yang ada di perkuliahan.

Proses Evaluasi dalam PjBL

Proses penilaian atau evaluasi dalam PjBL haruslah bersifat valid/absah, dapat dipercaya/reliable dan fair/adil. Dalam konteks ini para siswa juga harus mampu untuk belajar mengevaluasi pekerjaan dan apa yang dilakukannya dengan melakukan self assessment. Siswa juga harus mampu untuk belajar menyediakan umpan balik yang membangun atas hasil pekerjaan orang lain/peserta didik lain (biasa disebut dengan peer-assessment). Terdapat dua metode penilaian yaitu Formative Evaluation dan Summative Evaluation.

Evaluasi formatif adalah metode penilaian yang dilakukan pada saat berlangsungnya proses /aktivitas pembelajaran yang menyediakan umpan balik sewaktu-waktu untuk mengukur hasil pekerjaan siswa. Sedangkan evaluasi summatif adalah penilaian pada saat proyek telah berakhir/atau dilakukan di akhir proyek. Hasil penilaian formatif dapat pula dijadikan sebagai bahan untuk penilaian summatif.

Perangkat penilaian otentik yang sering digunakan dalam PjBL untuk menilai proses dan performa siswa adalah dalam bentuk Rubrik. Rubrik merupakan bentuk penilaian formatif sebagai panduan penilaian untuk mengukur kinerja siswa berdasarkan berbagai kriteria yang disepakati bersama. Rubrik juga merupakan panduan kerja untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang biasanya telah diberikan kepada siswa pada saat awal pelajaran. Lewat rubrik inilah siswa dapat melakukan penilaian pekerjaannya sendiri (self-assessment) dan mampu menilai pekerjaan siswa lain (peer-assessment). Jadi bukan lagi hanya mendapatkan nilai berupa angka dan huruf tanpa mendapatkan umpan balik yang membangun seperti yang terjadi sekarang.

Kesimpulan

Penerapan PjBL dalam pendidikan tinggi akan mampu untuk menghasilkan siswa/siswi yang memiliki ketrampilan aplikatif dan siap kerja karena ketika belajar di universitas mereka telah dilatih untuk menyelesaikan permasalahan dalam dunia nyata. Kreatifitas dan inovasi dari staf pengajar yang terlibat sangat diperlukan untuk menghasilkan pembelajaran yang inovatif, kreatif, aktif dan menyenangkan supaya siswa bebas dari tekanan, bebas menuangkan ide, menemukan hal-hal baru, dan mampu berfikir kritis dengan tujuan akhir meningkatkan kualitas lulusan untuk siap bersaing di masa depan. Penerapan PjBL di perguruan tinggi tidak hanya dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa, namun sebagai upaya untuk penguatan nilai-nilai karakter siswa dalam pembelajaran.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of