Artikel

Praktik Baik Pemanfaatan Kelase oleh Para Guru dan Dosen dalam Mendukung Pelaksanaan Home Learning untuk Antisipasi Penyebaran Covid-19

Semenjak diberlakukannya kegiatan belajar dari rumah oleh Kementerian Pendidikan dan Dinas Pendidikan di Indonesia untuk mengantisipasi meluasnya wabah pandemi Covid-19/Corona, Kelase sebagai penyedia layanan pembelajaran online mengalami lonjakan jumlah pengguna yang sangat pesat. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan guru yang harus memfasilitasi siswa untuk terus melaksanakan pembelajaran secara jarak jauh dari rumah.

Pentingnya Mengajarkan Computational Thinking di Sekolah Indonesia

Penguasaan kecakapan Berpikir/Pemikiran Komputasi atau Computational Thinking (CT) sebagai salah satu teknik penyelesaian masalah menjadi sangat penting di masa sekarang untuk menyiapkan generasi penerus yang berdaya saing di era ekonomi digital ini. Kecakapan ini mengajarkan siswa bagaimana berpikir seperti cara ilmuwan komputer berpikir, untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata.

[Best Practices] Mewujudkan Sekolah Linumeratif Bersama Paguyuban Kelas di Gugus 1 Brang Rea Kabupaten Sumbawa Barat

Paguyuban merupakan bentuk kelompok sosial yang ada di masyarakat yang mempunyai ikatan darah dan hubungan kekerabatan dan kekeluargaan sehingga di antara anggotanya memiliki rasa saling memiliki dengan anggota yang lainnya dan mempunyai suatu tujuan yang mulia dan berguna bagi anggota-anggotanya dan orang banyak. Paguyuban orang tua siswa di kelas merupakan perkumpulan orang tua atau wali …

[Best Practices] Mewujudkan Sekolah Linumeratif Bersama Paguyuban Kelas di Gugus 1 Brang Rea Kabupaten Sumbawa Barat Selengkapnya »

Bagaimana Membuat Alat Evaluasi Kompetensi Pemecahan Masalah?

Pemecahan masalah (problem solving) merupakan salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skill) yang sudah sepatutnya kita tanamkan kepada peserta didik. Kemampuan penyelesaian/pemecahan masalah merupakan keterampilan penting dalam kehidupan sehari-hari dan layak dikuasai agar sukses menghadapi tantangan masa depan. Namun, belum banyak pendidik yang dapat mengintegrasikan kompetensi ini dalam pembelajaran karena kesulitan dalam …

Bagaimana Membuat Alat Evaluasi Kompetensi Pemecahan Masalah? Selengkapnya »

Pemanfaatan TIK VS Integrasi TIK dalam Pembelajaran

Pemanfaatan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia seringkali hanya digunakan untuk membantu kegiatan administrasi di sekolah saja, tak ubahnya menggantikan mesin ketik konvensional. Bahkan banyak pula sekolah-sekolah maju, yang memiliki laboratorium komputer dengan jumlah komputer yang memadai, hanya memanfaatkan perangkat TIK yang ada untuk mengajarkan keterampilan teknologi informasi saja …

Pemanfaatan TIK VS Integrasi TIK dalam Pembelajaran Selengkapnya »

Internalisasi Metode Saintifik dalam Pembelajaran Berbasis Proyek

Mari kita lanjutkan pembahasan tentang Pembelajaran Berbasis Proyek. Berdasarkan kajian teori, metode saintifik adalah jalan untuk membuat dan menjawab pertanyaan ilmiah (scientific questions) melalui observasi dan atau eksperimen. Adapun tahap tahap metode saintifik terdiri dari : (1) Membuat pertanyaan ilmiah, (2) Melakukan kajian teoritis (research), (3) Mengkonstruksi hipotesis, (4) Menjalankan observasi dan atau eksperimen, (5) …

Internalisasi Metode Saintifik dalam Pembelajaran Berbasis Proyek Selengkapnya »

Merancang Project Based Learning dengan Kerangka GRASPS

Untuk merancang PjBL (Project Based Learning), perancang kurikulum dapat menggunakan kerangka kerja GRASPS, yang merupakan sebuah metode perancangan Authentic Assesment (penilaian otentik yang diambil dari gagasan Wiggins dan McTighe bernama “backward planning” atau “backward design” dalam bukunya “Understanding by Design”. GRASPS merupakan singkatan dari Goal, Role, Audience, Situation, Product and Standards.

Teknik Mengoptimalkan Kinerja Kelompok Siswa dalam Pembelajaran

Saya pernah melakukan pengelompokan siswa dalam pembelajaran di kelas dan memberi mereka tugas untuk dikerjakan bersama. Namun ada peserta didik yang aktif dan ada pula yang sangat pasif. Peserta yang aktif cenderung mendominasi sehingga beban pekerjaan tidak terbagi merata. Bagaimana mengatasi hal ini? Bagaimanakah agar kerja kelompok menjadi efektif?